Pengobatan alternatif yang sering "menjebak" umat Islam adalah
pengobatan dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran dan dengan doa-doa
berbahasa Arab. "Dokter"-nya pun tak jarang yang menamakan diri sebagai
kiai atau ustadz, padahal di dalamnya terdapat unsur-unsur syirik.
Praktek pengobatan alternatif mengalami booming pada beberapa tahun
belakangan ini. Peminat atau pasiennya membludak. Ia menjadi "jalan
pintas" untuk cepat sembuh dengan tarif terjangkau.
Yang menjadi persoalan,
tidak sedikit praktek pengobatan alternatif itu ditengarai menjurus pada
praktek perdukunan serta berbau syirik dan sihir yang diharamkan Islam.
MUI sudah mengeluarkan fatwa pada Mei 2006 tentang pengobatan
alternatif ini. Intinya, pengobatan alternatif dibolehkan, dengan syarat
tidak mengandung syirik dan sihir. Artinya, jika mengandung syirik dan
sihir, jenis pengobatan yang kian digandrungi masyarakat ini diharamkan.
Beragam cara, modus, atau metode dilakukan dalam pengobatan
alternatif, misalnya dengan mentransfer atau "memindahkan" penyakit
kepada bintang seperti kambing, menggunakan kekuatan do'a, jampi-jampi,
dan sebagainya.
Praktek "transfer penyakit" kepada binatang sudah dikenal sejak lama,
biasa dilakukan oleh para kahin (dukun/paranormal). Biasanya, pasien
yang sakit diminta untuk membeli kambing untuk media pengalihan
penyakit, lalu setelah dilakukan "transfer" penyakit, kambing tersebut
disembelih.
Praktek pengobatan semacam ini, menurut mayoritas ulama, bisa
dipastikan menggunakan bantuan jin. Sebab, secara fithrah manusia tidak
diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk memindahkan suatu penyakit kepada
makhluk atau benda lain, tanpa menggunakan media yang normal.
Karena menggunakan bantuan jin inilah, praktek pengobatan seperti ini
diharamkan, karena sudah mempraktekkan syirik. Menurut Ibnu Taimiyyah,
sebagian besar jin bertugas untuk menyesatkan manusia. Atas dasar itu,
bantuan yang mereka berikan kepada manusia, pasti ada kompensasinya.
Jika ia mengajukan syarat yang bertentangan dengan Islam, maka kita
tidak boleh menerima syarat tersebut.
Atas dasar itu, kebolehan meminta bantuan jin adalah kebolehan yang
bersyarat, yakni jika kita bisa memastikan bahwa syarat-syarat yang
diajukan oleh mereka tidak bertentangan dengan Islam, dan ada kepastian
juga mereka tidak menggunakan media bantuan tersebut untuk menyesatkan
manusia.
Jin sendiri adalah makhluk ghaib yang tidak ada seorang pun yang bisa
menginderanya secara langsung, kecuali atas izin Allah SWT. Untuk itu,
pengobatan tersebut harus ditolak dan dihindari oleh orang yang beriman.
Selain itu, ketika penyakit itu dipindahkan kepada hewan, maka tindakan itu sama saja dengan melakukan penyiksaan kepada hewan. Tindakan seperti ini tentunya tidak dibenarkan dalam Islam.
Selain itu, ketika penyakit itu dipindahkan kepada hewan, maka tindakan itu sama saja dengan melakukan penyiksaan kepada hewan. Tindakan seperti ini tentunya tidak dibenarkan dalam Islam.
Para jin merupakan andalan para dukun dalam melakukan aksinya.
Sedangkan dalam Islam, mendatangi dukun untuk berobat atau meminta
pertolongannya, dilarang. Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa datang
ke kahin (dukun/paranormal), dan percaya apa yang ia katakan, maka
sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada
Muhammad saw." (HR. Abu Daud). Dalam salah satu ayat disebutkan, "(Dia
adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka dia tidak memperlihatkan
kepada seorang pun tentang yang ghaib itu." (QS. Al-Jin: 26).
Transfer penyakit ke hewan tentu hanyalah satu dari sekian praktek
pengobatan alternatif yang berkembang dan diminati masyarakat belakangan
ini.
Bagi umat Islam, hal tersebut selain wajib dijauhi, juga bukan hal
aneh, karena Allah SWT sudah memperingatkan dalam ayat-Nya: "Dan
bahwasanya ada beberapa orang di antara manusia meminta perlindungan
kepada jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rahaqo" (QS. Al-Jin:
6).
Arti rahaqo dalam ayat ini, menurut Ibnu Qatadah, ialah dosa dan
menambah keberanian bagi jin pada manusia. Rahaqo juga berarti ketakutan
(Abul Aliyah, Ar-Rabi', dan Zaid bin Aslam). Ketika jin tahu manusia
minta perlindungan karena takut pada mereka, maka jin menambahkan rasa
takut dan gelisah agar manusia semakin tambah takut dan selalu minta
perlindungan kepada mereka (Tafsir Ibnu Katsir).(percikiman)

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !